Teknologi

Dampak Penggunaan AI terhadap Lingkungan: Tantangan Energi dan Air di Indonesia

Dampak Penggunaan AI terhadap Lingkungan: Tantangan Energi dan Air di Indonesia
15 Oct 2026 1 kali dibaca Admin

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pencarian informasi, pembuatan konten, analisis data, hingga mendukung kegiatan industri. Teknologi ini membantu manusia bekerja lebih cepat dan membuka peluang inovasi di berbagai sektor.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat infrastruktur fisik yang memungkinkan teknologi AI beroperasi. Pusat data atau data center, sebagai tempat penyimpanan dan pemrosesan data, membutuhkan pasokan listrik, perangkat komputasi, serta sistem pendinginan untuk menjaga server tetap beroperasi secara stabil.

Pertumbuhan kebutuhan komputasi AI kemudian memunculkan pertanyaan penting: bagaimana memastikan perkembangan teknologi digital tidak menambah tekanan terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup?

Di Indonesia, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan seiring dengan pembangunan pusat data berskala besar. Peristiwa pembangunan pusat data AI di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada akhir September 2026 memperlihatkan pentingnya memperhatikan aspek lingkungan sejak tahap perencanaan proyek.


1. Kasus Pusat Data AI di Jatiluhur, Jawa Barat

Pada 30 September 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan penghentian sementara pembangunan pusat data AI di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjelaskan pada 1 Oktober bahwa penghentian tersebut dilakukan karena pihak pengembang, BDx Data Centers, belum mengantongi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Proyek yang direncanakan memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW) tersebut turut menjadi perhatian karena lokasinya berada di sekitar Waduk Jatiluhur. Pemerintah meminta agar kajian mengenai potensi kebisingan dan kebutuhan air dibuka kepada masyarakat, serta memastikan kegiatan pusat data tidak mengganggu pemanfaatan air untuk kebutuhan masyarakat dan pertanian.

Sumber: Pemerintah Provinsi Jawa Barat — Penghentian Sementara Pembangunan Pusat Data AI di Jatiluhur.

Peristiwa ini perlu dipahami secara proporsional. Penghentian sementara tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kerusakan lingkungan telah terjadi. Sebaliknya, kasus ini menunjukkan pentingnya menyelesaikan persyaratan dan kajian lingkungan sebelum pembangunan dilanjutkan, agar potensi dampak dapat diidentifikasi dan dikelola secara tepat.

Pada 7 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menegaskan bahwa pembangunan pusat data AI perlu memperhatikan ketersediaan air dan energi agar tidak mengganggu kebutuhan masyarakat. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menentukan lokasi dan mengelola kebutuhan infrastruktur digital.

Sumber: ANTARA News — Pembangunan Pusat Data Tidak Boleh Ganggu Ketersediaan Air dan Energi.


2. Mengapa Penggunaan AI Dapat Berdampak pada Lingkungan?

A. Peningkatan Kebutuhan Energi

Model AI membutuhkan daya komputasi untuk dilatih dan digunakan. Semakin besar skala komputasi dan semakin tinggi intensitas penggunaannya, semakin besar pula kebutuhan energi yang berpotensi timbul pada infrastruktur pendukungnya.

International Energy Agency (IEA), melalui laporan Key Questions on Energy and AI yang diterbitkan pada April 2026, melaporkan bahwa konsumsi listrik pusat data secara global meningkat 17% pada 2025. Konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI bahkan meningkat 50% pada periode yang sama.

IEA juga memperkirakan konsumsi listrik pusat data global meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. Angka tersebut merupakan proyeksi global, bukan perkiraan konsumsi listrik pusat data di Indonesia.

Sumber: International Energy Agency — Key Questions on Energy and AI.

Peningkatan kebutuhan listrik tersebut perlu diimbangi dengan efisiensi energi dan penyediaan sumber listrik yang lebih rendah emisi. Apabila tambahan kebutuhan listrik dipenuhi menggunakan pembangkit berbahan bakar fosil, emisi gas rumah kaca yang terkait dengan konsumsi listrik dapat meningkat. Besarnya dampak tetap bergantung pada sumber energi, efisiensi fasilitas, dan pola penggunaan komputasi.

B. Penggunaan Air untuk Sistem Pendinginan

Perangkat komputasi yang bekerja secara intensif menghasilkan panas. Oleh karena itu, pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga suhu peralatan dan mempertahankan keandalan operasional.

Besarnya kebutuhan air bergantung pada teknologi pendinginan yang digunakan. Sistem tertentu memanfaatkan air untuk membuang panas, sementara teknologi lainnya lebih mengandalkan pendinginan udara atau sistem sirkulasi yang dirancang untuk mengurangi konsumsi air.

Jika kebutuhan air pusat data terkonsentrasi pada wilayah yang juga digunakan oleh masyarakat, pertanian, atau kegiatan ekonomi lainnya, perencanaan yang kurang matang dapat meningkatkan tekanan terhadap sumber daya air setempat.

Dalam konteks Jatiluhur, isu ini menjadi bagian penting dari kajian yang perlu diperhatikan, mengingat waduk tersebut memiliki fungsi bagi penyediaan air dan kegiatan pertanian. Karena itu, perhitungan kebutuhan air perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi normal maupun musim kemarau.

C. Emisi dan Jejak Lingkungan Infrastruktur Digital

Dampak lingkungan AI tidak hanya berasal dari proses komputasi, tetapi juga dari keseluruhan infrastruktur yang mendukungnya. Pembangunan pusat data membutuhkan perangkat server, sistem kelistrikan, fasilitas pendinginan, dan infrastruktur pendukung lain.

Produksi, pengoperasian, serta penggantian perangkat tersebut memiliki jejak lingkungan yang perlu diperhatikan. Selain itu, penggunaan listrik dalam jumlah besar berpotensi menambah emisi apabila pasokannya masih bergantung pada sumber energi beremisi tinggi.

Oleh sebab itu, penilaian dampak lingkungan tidak cukup hanya melihat besarnya kapasitas pusat data. Penilaian juga perlu mencakup kebutuhan energi aktual, sumber listrik, efisiensi pendinginan, penggunaan air, pengelolaan limbah elektronik, dan dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar.


3. AI Tidak Selalu Berdampak Negatif terhadap Lingkungan

Meskipun membutuhkan energi dan infrastruktur, AI juga memiliki potensi untuk mendukung perlindungan lingkungan apabila dirancang dan digunakan secara tepat.

Salah satu contohnya adalah pemanfaatan teknologi AI dalam analisis iklim. BMKG menggunakan analisis berbasis pemodelan kecerdasan buatan dalam penyusunan Informasi Pandangan Iklim 2026. Informasi iklim dapat menjadi salah satu masukan untuk perencanaan kegiatan di berbagai sektor dan mendukung kesiapsiagaan terhadap risiko cuaca.

Sumber: BMKG — Iklim 2026 Bersifat Normal, BMKG Dorong Optimalkan Potensi Iklim untuk Berbagai Sektor.

Dalam penerapan lainnya, AI dapat membantu menganalisis data pemantauan lingkungan, mengidentifikasi pola perubahan, mendukung deteksi dini potensi pencemaran, serta mengoptimalkan penggunaan energi dan sumber daya. Manfaat tersebut bergantung pada kualitas data, ketepatan model, dan tindak lanjut yang dilakukan oleh manusia.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar menentukan apakah AI baik atau buruk bagi lingkungan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dikembangkan, dari mana energi diperoleh, bagaimana sumber daya digunakan, dan apakah manfaat yang dihasilkan sebanding dengan dampak lingkungannya.


4. Langkah untuk Mengurangi Dampak Lingkungan dari Infrastruktur AI

Untuk mendukung perkembangan teknologi yang lebih bertanggung jawab, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh pengembang pusat data, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Pertama, melakukan kajian lingkungan secara menyeluruh. Identifikasi potensi dampak perlu dilakukan sejak tahap perencanaan, termasuk terhadap ketersediaan air, kebutuhan energi, kebisingan, kondisi lingkungan sekitar, dan kepentingan masyarakat.

Kedua, meningkatkan efisiensi energi. Penggunaan perangkat yang efisien, pengelolaan beban komputasi, serta optimalisasi sistem pendinginan dapat membantu mengurangi kebutuhan energi untuk menjalankan fasilitas.

Ketiga, mengelola penggunaan air secara bertanggung jawab. Teknologi pendinginan perlu dipilih dengan mempertimbangkan kondisi setempat. Pengembang juga perlu mengevaluasi penggunaan air alternatif atau air daur ulang apabila secara teknis dan lingkungan memungkinkan.

Keempat, mendorong penggunaan energi yang lebih bersih. Penyediaan listrik rendah emisi dapat membantu mengurangi jejak karbon dari pengoperasian pusat data. Penerapannya perlu disertai perencanaan pasokan yang andal dan transparansi mengenai sumber energi yang digunakan.

Kelima, melakukan pemantauan dan keterbukaan informasi. Pengelolaan lingkungan harus berlanjut setelah pembangunan dimulai. Pemantauan berkala, pelaporan yang transparan, dan komunikasi dengan masyarakat membantu memastikan bahwa komitmen pengelolaan lingkungan benar-benar diterapkan.

Langkah-langkah tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik fasilitas, hasil kajian teknis, dan ketentuan peraturan yang berlaku.


Kesimpulan

Perkembangan kecerdasan buatan membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan efisiensi di berbagai bidang. Namun, pertumbuhan teknologi tersebut juga membawa tantangan lingkungan, terutama terkait kebutuhan energi, penggunaan air untuk pendinginan, dan jejak lingkungan dari infrastruktur digital.

Kasus pembangunan pusat data AI di Jatiluhur, Jawa Barat, menjadi pengingat bahwa pengembangan teknologi perlu disertai perencanaan yang matang, kajian lingkungan yang transparan, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.

AI dapat menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan lingkungan, tetapi manfaatnya perlu diimbangi dengan upaya untuk mengendalikan dampak dari infrastruktur yang mendukungnya. Kemajuan digital yang berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang dibangun, melainkan juga tentang bagaimana teknologi tersebut berkembang tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup.

Bagi dunia usaha, penerapan prinsip keberlanjutan sejak tahap perencanaan merupakan langkah penting untuk mendukung kepatuhan lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan perlindungan sumber daya alam.

Tags: artificial Intellegence Energi dan Lingkungan AMDAL Lingkungan Hidup